Rabu, 23 Maret 2011

Pagi Berdebu

Ringkang tubuh pilu memikul
Padi yang beterbangan
Menguak disela awan-awan putih
Gelap langit tak kunjung pudar
Air matanya menetes
Melihat rumah yang tak kunjung sehat
Mendenging suara bulan
Menyentak suasana pilu
Sembari menangis Ia tertawa
Tersenyum kaku menatap daku
Rintik hujan merah
Membasahi tubuh ringkangnya
Mencoba menahan duka
Yang diciptanya dari buah tangannya
Sembari mengenang pagi berdebu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar