Rabu, 23 Maret 2011

Serigala Malam

Gelap malam menemaniku terlelap
Diselingi rasa gelisah yang mencekam
Sembari mendengar jeritan malam
Membawaku terbang ke alam lain
Putih menyilaukan menusuk mata
Menderu suara malam
Menerbangkan dedaunan kering
Waktu seakan terhenti
Menghentikan decikan air
Melambai bayangan hitam
Memanggilku...
Mengatakan sepatah kata
Dengan alunan lembut
Yang membisingkan telinga
Meneteskan darah
Setetes demi setetes...
Lama terdiam dalam kesunyian
Ia hilang ditelan longlongan serigala malam

Sungai Kapuas

Alunan lembut biola
Membangunkan ku dari tidur lelap
Dari lelah malam yang kurasa
Kubuka jendela dunia
Dan kulihat bentangan air
Dengan berbagai macam kertas
Bertulis rangkaian tangan
Dengan tinta hitam pudar
Para pencari harta
Berburu bersenjatakan tombak tumpul
Berlarian mencari mangsa
Bermandi cahaya kunang-kunang
Ku lewati jalan setapak
Hingga sampai di jantungnya
Jantung yang membelah nirwana
Rumah bagi sebagian makhluk Tuhan
Hidup di bibir air
Memanjang dari sumber
Hingga mati di penghujung aliran

Pagi Berdebu

Ringkang tubuh pilu memikul
Padi yang beterbangan
Menguak disela awan-awan putih
Gelap langit tak kunjung pudar
Air matanya menetes
Melihat rumah yang tak kunjung sehat
Mendenging suara bulan
Menyentak suasana pilu
Sembari menangis Ia tertawa
Tersenyum kaku menatap daku
Rintik hujan merah
Membasahi tubuh ringkangnya
Mencoba menahan duka
Yang diciptanya dari buah tangannya
Sembari mengenang pagi berdebu

Galau

Jauh mata memandang
Melihat diri terbaring
Menetes darah dari mata
Kecup manis yang merona
Berbekas mengukir kenangan
Tangan menyentak kaku
Mendengar alunan lembut
Doa menggores hati
Teringat kisahnya dulu


Dengung yang selalu mengganggu
Mengiang di telinga
Merobek belahan langit nan indah
Menyisipkan ingatan tentangnya
Ingin memukul tapi tertahan
Mencoba tenang walau diterpa rintangan

Cintaku Cinta Borneo

Berjalan mengikuti desir angin
Membawaku melayang
Melintasi pesona indah Borneo
Mata yang tak lelah memandang
Mengunci hati untuk menghentikan langkah kaki
Hijau di depan mata
Diikuti gemercik air yang berlarian
Tiang-tiang berdaun tumbuh
Seakan hidup di surga
Arwana nan elok bermandi cahaya bulan
Berlarian menderu mata hatiku
Di buai tempat terindah di dunia

Selasa, 22 Maret 2011

Bila Ku Jatuh Cinta

Lantunan indah malaikat terdengar
Ilusi tentangmu bersarang di benakku
Selaras akan pikiranku
Aku ingin memilikimu

Oh... Mataku matamu beradu pada satu tatapan
Ketika hatiku makin ingin berlabuh
Tak terasa sang waktu terus membuaiku
Aku jatuh pada kolam imajinasi

Warna-warni cinta mulai menyinari
Untaian kata tak sanggup mencitrakannya
Lalui detik demi detik denganmu
Aku seakan melambung tinggi
Napasku seakan berhenti
Debaran jantungku bergemuruh
Artikan tingkahku yang tak biasa
Rasuki pikiranku dengan cara yang sama
Inikah cinta???





Karya Lisa Okta Wulandari

Pupus

Indahnya cakar menyayat hati
Remuk jiwa terlindas angin
Virus dendam tampak menjalar          
Asa melekat dikala malam
Nirwana pagi tak pula tiba
                              
Lemah tubuh tak bernyawa                           
Ukir cerita sang pengembara
Teringat cinta hari yang lalu
Harmoni tua takkan berbunyi
Flagma menumbuhkan egoisku
Ironi yang tak kunjung usai

Remukkan jiwa ragaku
Yakinkan aku wahai angin
Akankah ia kembali untukku
Deru angin membisik hati
Indah dunia kurebut kembali

Rintih

Melintas alam membelah bumi
Merobek harapan yang terkubur didalamnya
Merambat naik menggapai langit
Ombak bergulung meluluh lantah
Mengusik tidur tenang sang penguasa

Menahan jerit luka yang kelam
Melihat diri bak bayangan
Runtuh harapan ke dasar Samudra
Mencoba melempar angan
Tinggalkan rumah dan tidur tenang

Pergi

Untaian tali terulur panjang
Mengikat kaki sang pengembara

Terus merangkak walau lelah
Bermandi embun subuh yang pilu
Tiang runtuh diterjang hina

Tiada lagi mimpi yang lalu
Terhapuskan tawa...
Terbesit dalam hati
Meneteskan darah segar
Hati diiris kata-kata

Menekan jiwa tanpa haluan
Membanting duka yang menyiksa
Nisan itu jadi saksi...
Ganasnya alam dunia

Takkan Mampu

Apa....
Siapa....
Lintah berlari bak pencuri
Melihat duri dalam diri
Berpencar luas menahan iri
Menikam mata hati

Dibuai kata takdir ilahi
Ingin mengucap...
Tapi berat...
Lihat diri membangkang cermin
Merubah indah bumi pertiwi
Sudah melangkah akan mati

Rongsokan besi diatas api
Seuntai benang putih...
Menopang beban hidup ini

Tetap Setia

Dengan mencintaimu aku bahagia
Aku akan menjaga kebahagiaanku ini
Niscaya cinta kita akan abadi
Namun ketidaksempurnaanku menghalangi cinta kita
Yang aku punya hanyalah kesetiaan

Sampai akhir menutup mata
Aku akan tetap mencintaimu
Tanpa pernah habis cintaku untukmu
Rasa sayangku padamu begitu besar
Ingin rasanya bersamamu setiap waktu
Oh.. sayangku jangan pernah kau pergi dariku




Karya Danny Satrio

DENGAN CINTA

Pahit dan getir berkecamuk dalam diri
Ego pun terhenti seketika
Tatkala sepasang mata menangkap
Rapuhnya ketahanan hati
Isyarat hati pun berbicara
Curahkan segenap kasih
Itikad pun meredam semua
Asa yang tak ingin tercipta

Samar-samar ku lihat
Ukiran cerah di wajahmu
Rintihan suara kalbu
Yakinkan kerapuhan  hati
Ambisi kuat meracun diri
Niscaya terwujud
Dengan segenap cinta
Asmara loka saat itu
Runtuhkan kekuatan
Istana penyesakan dada




Karya Petricia Suryandari

Pesona Borneo

Arwana di dasar Kapuas
Rajai alam di sungai itu
Indah permaimu jelita
Fantasi nadi khatulistiwa
Ungkapan rasa cinta di dalam jiwa
Dua arus sungai bersatu
Dalam saka menjadi tiga
Ingin ku tatap pesona
Nan indah Pulau Borneo





Karya Arifuddin